SELAMAT DATANG DI KAMPUNG GEDONG BOJONGGEDE KABUPATEN BOGOR

Pencarian

Selasa, 06 Mei 2008

RUMAH TANPA SAMPAH

Profil Supardiyono Sobirin, Mewujudkan Rumah Tanpa Sampah

Pernah menanam padi di dalam pot? Supardiyono Sobirin (62) beberapa pekan lalu memanen padi yang ditanamnya dalam pot di halaman rumah. Awalnya Sobirin, warga Jalan Alfa, Kota Bandung, menanam satu batang padi.

Padinya tumbuh subur hingga rumpunnya memenuhi wadah. Awalnya ia iseng ingin membuktikan keunggulan pupuk kompos untuk padi. Ternyata hasilnya menggembirakan.

Sebelumnya, Sobirin menanam berbagai jenis pohon buah dan bunga dengan pupuk kompos buatannya.Sejak dua tahun lalu Sobirin menjalankan konsep hidup tanpa sampah. Ia membuat lubang ukuran 60 cm x 60 cm sedalam 1 meter. Ada lima lubang di halaman depan dan belakang rumahnya.Sampah dari halaman, seperti daun dan ranting kecil, dimasukkan dalam lubang, kemudian ditutup papan. Lubang ditetesi mikroorganisme lokal (Mol), yang berasal dari sisa makanan yang disimpan pada wadah tertutup. Dalam waktu beberapa hari, makanan akan membusuk dan menghasilkan cairan

hasil fermentasi. Cairan tersebut untuk membantu mempercepat pembusukan daun dalam lubang. Dalam waktu dua bulan, daun-daun kering yang berubah menjadi kompos tersebut siap dimanfaatkan untuk bertani. Selain lubang, membuat wadah pembuatan kompos sederhana dari kayu. Ketika sampah sudah jadi kompos, wadah bisa diangkat sehingga kompos seolah tercetak. Sobirin juga membuat kompos dengan wadah karung. "Di rumah berhalaman sempit, tetap bisa membuat kompos," katanya, Kamis (12/10).

Setiap pagi Sobirin, dibantu Aminuddin (42), mengurus dan memisahkan sampah. Sampah plastik dijemur lalu dimasukkan ke dalam drum plastik untuk dibuat biji plastik yang akan dibentuk menjadi barang interior rumah. Sementara itu, sampah kertas yang direndam dalam drum tertutup dijadikan bubur kertas dan didaur ulang menjadi kertas hias. Sisa makanan dijadikan Mol. Konsep rumah tanpa sampah ini menarik perhatian orang. Suami Etty Raffiati (59) ini sering menerima kunjungan mereka yang belajar memanfaatkan sampah di rumah.

Ketertarikan Sobirin terhadap alam dimulai sejak kanak-kanak di sebuah desa di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Kesenangan berada di alam berlanjut saat ia pindah ke Bandung tahun 1962, meneruskan pendidikan di Jurusan Geologi ITB. Bidang ilmunya menuntut dia untuk sering di lapangan. Setelah lulus tahun 1970, ia bekerja di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, sering ke desa-desa dan pelosok-pelosok terpencil. Terbiasa hidup dekat dengan alam membuatnya ingin menghabiskan masa pensiunnya dalam lingkungan yang menyenangkan dan menenangkan. (Yenti Aprianti)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Websites