SELAMAT DATANG DI KAMPUNG GEDONG BOJONGGEDE KABUPATEN BOGOR

Pencarian

Kamis, 14 Februari 2008

Menunggu lahirnya Prabu Siliwangi Baru

Ditulis oleh Stefanus Seimahuira, 18 September 2007
“Bila ingin tahu dalam telaga, bertanyalah kepada Angsa
Bila ingin tahu kekuatan laut, bertanyalah kepada laut
Bila ingin tahu manisnya bunga-bunga, bertanyalah kepada kumbang”
-Serat Pajajaran-


Peritiwa 3 Juni 1428 di Bale Kambang, mengantarkan kita pada ingatan tua yakni sejarah nenek moyang yang telah di torehkan dengan tinta emas. Dilantiknya Sri Baduga Maharaja, yang bergelar Prabu Siliwangi. Kisah kesuksesan kepemimpinan Prabu Siliwangi, yang kemudian menguasai Sunda Besar meliputi : Sumatra, Jawa dan Malaka, dengan kemakmuran rakyat dan keadilan yang merata.Hal ini menjadikan sejarah kerajaan Pajajaran di Pakuan, menjadi permenungan bagi kita, khususnya dua daerah kembarnya
Kota dan Kabupaten Bogor. Refleksi sejenak akan potret keadaan rakyatnya kini, di tengah-tengah peringatan hari jadi Bogor yang ke-525 tahun itu.

Berkaca dari Sejarah

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi memerintah hanya 39 tahun yakni dari tahun 1482 hingga 1521. Meski pemerintahanya singkat ,sebagai seorang raja ia di kenal adil dan bijaksana serta sangat perhatian terhadap rakyat. Sangat berusaha keras untuk memakmurkan rakyatnya.

Salah satu sisa karya sejarah, yang masih bermanfaat hingga kini adalah di buatnya sebuah sodetan yang menghubungkan dua sungai besar,Ciliwung dan Cisadane di Situ Duit (Warung Jambu,sekarang). Aliran sodetan itu dikenal dengan nama Kali Baru. Sebuah sungai yang mengalir sepanjang sisi jalan Jakarta – Bogor. Jasa-jasa lain yang monumental dari Sri Baduga Maharaja adalah di bangunnya parit pertahanan pakuan, di buatnya system pertahanan berlapis, pembuatan parit yang bersifat teknis- strategis dan pembuatan Telaga Rena Mahiwijaya, sekarang di kenal dengan Telaga Warna.

Bangkitnya Kesadaran

Sudah setengah Millenium lebih Bogor kini berusia. 525 tahun bukan waktu yang singkat. Setidaknya telah lahir dua puluh satu generasi, jika kita asumsikan dalam 25 tahun terjadi satu kali pergantian generasi. Kini di generasi ke-21 telah bangkit kesadaran di kalangan masyarakat Bogor terdidik, sebuah kesadaran akan pentingynya mengangkat kembali nilai-nilai lama yang penuh pengajaran, petuah, kemajuan, perdamaian, keadilan dan kesejahteraan. Apalagi Bogor kita sedang menyongsong saat-saat penentuan, setelah limaratus tahun lebih. Yakni menyongsong lahirnya pemimpin baru di Kota ataupun di Kabupaten Bogor yang di pilih langsung oleh rakyat Bogor sendiri. Dua kota kembar, Cibinong dan Bogor sebagai sisa Kerajaan Pajajaran adalah menunggu saat lahirnya dua pemimpin baru. Pemilihan langsung dua pemimpin Bogor di 2008 ini, menjadikan menjadikan sejarah baru bagi daerah Pakuan Pajajaran, untuk segera berbenah diri. Lantaran lebih dari satu juta rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan, angka harapan hidup yang tidak menggembirakan, usia sekolah yang hanya sampai kelas satu SMP.
Bilakah di bekas kerajaan yang besar karena sejarah dan keadilan pemimpinnya rakyat dapat kembali makmur, cerdas dan kuat ?!.

Menunggu Prabu Siliwangi Baru
Sejak Pajajaran beragama Hindu, rakyatnya telah taat beribadah. Kini, setelah Islam masuk ke wilayah Pajajaran 97 persen rakyatnya taat pula beribadah. Dahulu beribadah di gunungan kini beribadah di Masjid dan Musholla. Mereka berdoa dan berharap lahirnya pemimpin yang berkualitas tinggi, pemimpin yang perhatian kepada nasib rakyatnya dan pemimpin yang jiwanya senantiasa bersama rakyat. Rakyat kini menunggu dengan harap dan cemas lahirnya Prabu Siliwangi baru, yang dapat membuat simpul-simpul pertemuan rakyat, memotivasi rakyat, mengajak rakyat bekerja, nyantri dan nyakola. Siapakah gerangan pemimpin yang dapat berbuat seperti itu?. Seorang Prabu Siliwangi yang berani bersumpah : “Tara Mati Sebelum meninggalkan sejarah. Tara mati sebelum memakmurkan Bogor”. Seperti nenek moyangnya sendiri Sang Prabu Siliwangi.

Penutup
Kepada rakyat, untuk hidup lebih baik, salah satu indikatornya adalah lahirnya pemimpin yang baik. Maka rakyat harus cerdas, teliti dan hati-hati. Carilah di tengah-tengah mereka orang yang baik, peduli dan melayani. Jika salah lagi memilih maka rakyat akan menderita setidaknya lima tahun lagi.
*****Stefanus Seimahuira - Penulis adalah Direktur Eksekutif Tahisane Media Watch

1 komentar:

  1. PUTRA PRABU SILIWANGI TELAH HADIR !
    PERSIAPKAN DIRI UNTUK BERSAMA-SAMA MAJU BERSAMA RAKYAT !!!

    BalasHapus

Related Websites